Seminar Nasional itu diwarnai OKKOTS
Saat OKKOTS terucap di Makassar dan sekitarnya, pastinya masih banyak yang maklum. Setiap hari kan OKKOTS sudah menjadi rutinitas dan berdetak tiap hari dalam keseharian masyarakat Makassar dan sekitarnya. Yup, OKKOTS is the music of my province. (plesetannya agak ga nyambung yah, hehehe).
OKKOTs kerap diasosiasikan dengan keterbelakangan, kampungan dan tingkat pendidikan yang rendah. Banyak yang berpersepsi bahwa para OKKOTS-ers mengidap sindrom OKKOTS karena mereka bukannya mendapatkan pelajaran Bahasa Indonesi yang baik dan benar saat masih di sekolah, malah mempelajari Bahasa Indonesia yang baik dan BUGIS. Anggapan tersebut memang ada benarnya, namun tak sepenuhnya benar. Toh, banyak kok kalangan akademisi yang sering OKKOTS. Coba perhatikan di ruang kelas atau ruang kuliah, terkadang dosen atau guru secara tak sadar mengucapkan sebuah kalimat dalam OKKOTS. Dulu, saya sendiri punya kebiasaan yang tak biasa, menghitung berapa kali guru saya OKKOTS, lalu mencocokkan hasil perhitungan saya dengan beberapa teman yang lain yang hobinya sama. Kurang kerjaan kan? Hehehehe, Saya setuju bagi yang menjawab IYA.
Jadi ingat cerita dari seorang teman tentang temannya yang bernama Syarifuddin. Syarifuddin ini adalah seorang akademisi sekaligus praktisi. Kebetulan suatu hari dia mendapat undangan mengikuti sebuah seminar Nasional di Bandung.
Syarifuddin pun memenuhi undangan ini. Setibanya di Bandara Soekarno Hatta, dia segera menuju ke Bandung. Sampai di hotel tempat perhelatan seminar, Syarifuddin segera menuju ke meja registrasi. Dia disambut oleh mbak panitia yang sedang sibuk mendaftarkan peserta yang sudah mulai antri.
Tiba gilirannya, Syarifuddin pun memulai proses registrasinya.
Syarifuddin : Saya mau registrasi Mbak
Panitia : Baik Pak, nama Bapak siapa?
Syarifuddin : SYARIFUDDING, tidak pake huruf “G” yah di ujuN….. (Kata Syarifuddin dengan gaya sangat meyakinkan).
Panitia : Okeh, nama bapak SYARIFUDDING yah (mengecek daftar peserta sejenak). Maaf pak disini yang ada atas nama Bapak SYARIFUDDIN dari Makassar.
Syarifuddin : Nah itu dia. SYARIFUDDING kang? tidak pake G di ujuN. (masih dengan keyakinan seratus persen)
Panitia : ????????(BIngung, tulisannya apa telinga saya yah yang salah)
Hehehehehe……..



