Saat Kami Berlogat ala Jakarta
Tuntutan menjadi keren atau kedengeran gaul memang lumrah. Banyak diantara kita yang berusaha tampak keren melalui outfit, lifestyle atau mungkin lewat gaya bicara.Sejumlah orang memang senang menjadi pusat perhatian dan selalu ingin terlihat menonjol dibanding dengan yang lain. (Saya termasuk kali yah, hehehe)
Saya ingat sekali jaman-jaman kuliah dulu di Makassar, bahasa yang kami pergunakan sehari-hari di kampus adalah Bahasa Indonesia dengan aksen Makassar yang sangat kental manis (maksudnya terdengar sangat kental namun tetap manis, hehehe). Namun, selain itu, banyak juga rekan-rekan yang sangat konsisten berusaha menggunakan logat Jakarta dengan gaya “lo lo gua gua”. Bagi mereka yang memang gede di Jakarta, hal tersebut mungkin dengan mudah dilakukan mengingat pergaulan dan lingkungan memang sangat mempengaruhi cara berbicara seseorang. Tapi, bagi mereka yang berniat latah berlogat Jakarta dan dari kecil gedenya di pematang sawah dan kali, mungkin penggunaan logat jakarta dengan segala tetek bengek nya menjadi sedikit sulit. Analogi nya yah seperti memaksakan seseorang yang terbiasa makan ikan asin untuk mengkonsumsi roti plus keju.
Saat penggunaan logat Jakarta ini dipaksakan, kerap timbul kesalahan-kesalahan yang lucu, bikin tengsin dan bisa menimbulkan kesalahpahaman. Saya jadi teringat sebuah pengalaman unik tentang penggunaan logat Jakarta yang kurang tepat.
where is my sandal?
Waktu itu kami sedang berkumpul di kos-kosan salah seorang temen. Saya dan beberapa teman lagi ngumpul buat belajar bareng, siap siap UMPTN. Salah seorang rekan cewek sedang menunggu jemputan pacarnya. Tak berapa lama pacar si cewek datang, dan dia pun bergegas ke pintu depan menyongsong sang pacar. Tapi kemudian dia kembali masuk menemui kami, dia nampak mencari-cari sesuatu.
Dengan logat Jakarta yang merdu, dia bertanya: “Hei kalian….. SENDAL GUA MANA NGGAK?”
Kami sempat melongo…. Namun beberapa detik kemudian kami serempak menjawab: “NGGAK”.
Yah kami semua tahu, pertanyaan yang dimaksud adalah: “LIAT SENDAL GUA NGGAK”.
Ah ada ada saja.
HOWDY, Guys
Saat itu, ada pertemuan dengan beberapa rekan Makassar di sebuah cafe di Jakarta. Beberapa rekan telah datang di cafe, pertemuan sesama anak rantau memang selalu seru. Membahasa kisah konyol semasa kuliah dan membahas kerjaan masing masing di Jakarta. Tersisa seorang rekan yang belum datang, dia baru sekitar sebulan di Jakarta, jadi mungkin sedikit tersesat di jalan, maklumlah anak baru.
Tak berapa lama, dia pun tiba. Dan langsung menyapa kami semua. Sebuah sapaan dengan maksud untuk menunjukkan identitas barunya sebagai “The Jakarta People”. Sebuah sapaan yang singkat, ramah namun salah kaprah.
“Hai Semua, Apa Kabar Yuk”
Jyaaaaah, bro mending pake “Aga Kareba” kali. Daripada belepotan gitu.


