oil trading

okkots.com

okkots itu bukang kekurangang, melainkang kelebihang

Mr Us-Us, the King of………..

Posted by cipu on Apr-1-2010

M r. U S -U S, t h e  K I L L E R

Adalah Ruri, teman saya semasa kuliah yang menuturkan cerita berikut. Ruri bekerja sebagai tenaga pengajar handal dan professional yang suka menabung dan tidak boros di sebuah lembaga bahasa Inggris terkemuka di Makassar. Lumrah kiranya seorang tenaga pengajar perempuan di panggil “ma’am” (baca: mem) oleh para muridnya. Panggilan ini ternyata tidak hanya diucapkan oleh para murid kepada tenaga pengajar perempuan, tapi para OB, staf bahkan driver pun ikut mengucapkan sebutan ini saat akan menyapa para guru wanita, termasuk Ruri. So, mereka memanggil Ruri dengan sebutan “ma’am“.

Suatu hari, Ruri berniat ke Malino untuk survei lokasi kegiatan yang akan dilaksanakan oleh kantornya. Ruri diantar oleh seorang driver kantor bernama pak Us-Us. Tahu sendirikan, kalau jalan dari Makassar ke Malino itu berkelok-kelok dan berliku-liku (hehehe, kelok sama liku sama saja kan?). Mobil yang dikendarai pak Us-Us mulai sedikit ngadat, dan sulit mendaki medan yang menanjak dan berliku. So, dia berniat mematikan AC, tapi demi etika Pak Us Us meminta ijin terlebih dahulu  ke Ruri dan rekan rekan pengajar lainnya di mobil itu…..

Pak Us-Us meminta ijin: “Mengs bunuh dulu AC nya yah… banyat tanjapam

Suasana mobil yang tadinya hingar-bingar karena suara cekikikan para penumpang, tiba tiba silent. Yup, keheningan tiba-tiba tercipta….. “Lo kata gua KOMENG, manggilnya pake “MENG”. Semuanya mencoba mencerna apa maksud pak Us-Us…. Mereka mencoba me-recall kembali apa yang pak Us-Us bilang…

“Meng, s bunuh dulu AC nya yah… banyat tanjapam

Dan, baru beberapa saat kemudian, tawa meledak lagi. Mereka baru tau maksud Pak Us-Us apa….. Maksud Pak Us Us adalah : “Ma’am, AC nya saya matiin dulu yah… banyak tanjakan”

Let’s see what’s wrong:

Pak Us-Us berkata “Mengs“, yang maksudnya “Ma’am”

Pak Us-Us berkata “bunuh“, yang dalam bahasa Indonesia sebenarnya “mematikan”. Jadi jangan bayangkan Pak Us-Us sebagai pemburuh berdarah dingin yah……

Pak Us-Us berkata “banyat tanjapam“, yang maksudnya : “banyak tanjakan”.

Sebutan Meng terus jadi populer banget di tempat Ruri mengajar..sampe sekarang semua orang kalo mo panggil teacher ato staff cewek pasti pake Meng!!

Tulisan yang sengaja di bolak balik.... tapi isinya curhat okkots seorang buruh di tembok rumah orang lain

L A K . . . . B A N

Waktu itu Pak Us-US lagi nulis sesuatu di gudang, terus Talib (OB) masuk dan nanya ke Pak Us-Us. Dan Percakapan pun tercipta:

Talib : Pak Us-Us lagi bikin apa?

P Us-Us : lagi tulis proposal buak mobil

Talib membaca kertas proposal pak Usman dan nanya : Ini yang nomor dua apa pak?

P Us-Us :Ohhhhhh,  itu Lak

Talib : Lak?? Apa itu?

P Us-Us: Masa nggak tau Lak sih??? Itu lho…. kaing buak bersih-bersih…..

Talib: ohhhhhh LAP yah???

Pak Us-Us: iyahhh, LAK

Talib : ????? (Kirain Lak Ban)

Glossary : buak = buat, kaing = kain, Lak = Lap

Tak heran, pak Us-Us mendapat julukan the King of Okkots…. nyaingin Michael Jackson, the King of Pop. Hehehehe. Pisss Pak Us-Us

Acknowledgement:

Thanks to Ruri atas cerita konyolnya

Mbak Wati yang Bukan Hidangan

Posted by cipu on Mar-4-2010

Di Sulawesi Selatan, angkutan antar kota yang paling umum digunakan adalah mobil-mobil sejenis Avanza, Panther, Innova atau Xenia. Jenis mobil inilah yang juga sering saya gunakan saat pulang kampung ke Sidrap sewaktu saya masih kuliah. Namun, bukan berarti bahwa bus tidak populer. Di daerah kami, bus antar kota juga ada, namun tidak sepopuler mobil mobil kecil seperti kijang dan sebangsanya. Dan berbeda dengan Jawa, di Sulawesi keberadaan bus AC tidak begitu banyak, bus AC hanya dijumpai untuk trayek-trayek tertentu seperti ke Makassar – Toraja, Makassar – Pare-pare, dan Makassar – Soroako. Bus bus trayek yang lain juga pake AC sih, tapi bukan Air Conditioner, melainkan Angin Cendela. Hehehehe. Yang habis facial disarankan jangan pulang kampung menggunakan bus jenis ini, ntar hasil facialnya gak keliatan.

Yang sering ke Pare-pare, mungkin sudah tidak asing dengan penggunaan Patas AC (Damri). Layanan bus ini segera menyedot peminat ketika pertama kali diluncurkan, maklumlah kami di Sulawesi jarang menikmati layanan bus AC. Jarak tempuh Makassar – Pare-pare selama kurang lebih 3 jam terasa lebih singkat karena teriknya matahari sudah tidak terasa lagi, bus nya pake AC gitu loh…

what's wrong with this pic?

Adalah Icha, salah seorang teman baik saya yang sempat menggunakan layanan Patas AC jalur Pare-pare – Makassar. Icha dan kawan-kawannya waktu itu rencana bertolak dari Pare-pare menuju Makassar. Patas AC menjadi pilihan mereka. Untuk mengusir kebosanan, Icha dan teman-temannya membeli tabloid dan koran, lumayan lah buat bahan bacaan di bus.

Bus pun bertolak dari Pare-pare menuju Makassar, melewati Barru, Pangkep dan Maros. Saat meninggalkan Pare-pare, bus ini juga ternyata memiliki hiburan sendiri. Tersebutlah seorang wanita bernama Wati yang ditakdirkan menghibur Icha dan seisi Patas pada hari itu. Wati sehari-harinya mengamen di Patas AC. Saat bus mulai meninggalkan Pare-pare,  Wati mulai menyanyikan sebuah lagu yang saya yakin teman- teman tahu. Sebuah lagu dangdut lawas dari Hetty Sunjaya berjudul Aku Bukan Hidangan (Ayooo, jangan pura-pura ga tau yah, pasti tau kan lagu ini?)

Sambil ber joget alakadarnya dan ditemani suara kecrekan, Wati mulai bernyanyi:

Jangam lah tenggelang kalau kau memandam tubuh ku

Jangam lah kau mabut kalau aku sedam tersenyum

Icha dan kawan-kawannya mulai menyadari ada ketidakberesan dalam lirik lagu yang baru saja mereka dengar. Mereka mulai mendengarkan secara seksama.

Memasuki reff, Wati mulai meningkatkan kualitas performance nya. Bak seorang professional yang sedang menghayati lagunya, Wati menutup mata dan menutup salah satu telinganya dengan tangan kiri nya saat memasuki Reffrain lagu:

Aku ini bukam lah makanam yam dihidamkam

Atau pula minumam yam selalu memabukkam ……

Kali ini Icha dan kawan-kawan sudah tak tahan lagi, untungnya mereka bawa tabloid. Sambil pura-pura membaca tabloid, Icha and the gank cekikikan dibalik rimbun tabloid. Untung pula Wati tidak menyadari aksi Icha and the Gank, bisa ngamuk Mbak Wati karena merasa dilecehkan. Upssss.  Guys, kira-kira sadar gak sih kenapa Icha and the Gank sampe ngakak? Hehehehehe

Oh iya buat kalian yang (pura-pura) ga tau lagu ini, saya lampirkan video nya. Kan lumayan buat joget. Tarik Maaang……

Aku Bukan Hidangan – Hetty Sunjaya

Belajar okkots Bagian 3

Posted by cipu on Feb-16-2010

Setelah mengetahui tentang okkots N dan NG serta okkots K dan T, saya ingin mengajak teman-teman semua untuk menambah pengetahuan grammar okkots. Untuk postingan kali ini, kita akan mencoba melihat bentuk okkots level menengah. Menurut hemat saya, OKKOTS N dan NG masih merupakan bentuk okkots ringan dan mudah ditemui dalam percakapan sehari-hari di daerah Bugis Makassar. Namun, OKKOTS K dan T saya kategorikan sebagai OKKOTS menengah karena pengidap OKKOTS ini tidak sebanyak pengidap OKKOTS N dan NG.

Selanjutnya, yang ingin saya perkenalkan adalah keluarga baru OKKOTS, yang saya sebut sebagai okkots N-M-NG. Kenapa disebut demikian? Karena ternyata dalam OKKOTS menengah jenis ini, bukan hanya posisi N dan NG yang sering tertukar-tukar namun ada juga huruf M yang sering tertukar dengan N dan NG begitupun sebaliknya. Okkots M-N dan NG ini tidak terlalu banyak terdengar, maklum yang mendominasi di Makassar dan sekitarnya dalah OKKOTS N dan NG.

Agar lebih mudah dimengerti, saya akan berikan sedikit contoh.

Kata Celana Dalam, bisa bermetamorfosis sempurna menjadi Celana Dalan atau Celana Dalang.

Kata “bukan”, berubah menjadi “bukam” atau “bukang

Kata “Serang”, bisa menjadi “seran” atau “seram“.

Kira-kira bisa dimengerti kan?

Well, let’s move on to the stories.

Story 1.

Cerita ini adalah cerita di kelas pelajaran olahraga ketika saya SMA. Kelas sedang senyap karena sang guru memberikan teori tentang cara berenang. Jangan harap anda akan menemukan gaya teri kelelep atau gaya paus mabok, seperti yang diceritakan Mila dalam blognya. Tapi, si guru memberikan langkah langkah berenang gaya bebas. Kami serius memperhatikan karena rata-rata teman di kelas bisa berenang tapi pake gaya banjir. Yang membuat saya tak bisa benar-benar konsen adalah kalimat si Guru Olahraga yang bertabur OKKOTS.

“Jadi, nanti sebelum berenam, harus pemanasang dulu yah!”

Saya tertegun sejenak, “Bukannya sebelum berenam harusnya berlima dulu,” jyaaah si Guru yang mau bilang berenang malah jadi berenam, kenapa nggak bertujuh berdelapan dan bersembilan aja sekalian.

Nah, yang paling parah adalah ketika si Guru Olahraga akan mengakhiri jam pelajaran olahraga hari itu:

“Nah sekian dulu hari ini, minggu depan kita ke kolaNG renaM“.

Nah loh….. Saya no comment, bener bener speechless.

Apa yang salah dengan gambar ini?

Story 2

Kali ini cerita tentang tiga orang ibu yang sama-sama membanggakan anak masing masing.

Ibu 1 : anak saya hebat loh, kerjanya di indovisiong.

Ibu 2 : Indovisiong itu tidak seberapa, anak saya lebih hebat lagi, kerjanya di Be-U-eM-eNG

Ibu 3: Anaknya kerja di Be-U-eM-eNG mana bu?

Ibu 2: di Telkong…….. (tersenyum jumawa)

Ibu 3 : Ah kalo cuman kerja di telkong, anak ibu  masih kalah sama anak saya.

Ibu 1 : Memangnya anak ibu kerja dimana?

Ibu 3 : di eL-eS-eNG don…..! (dengan gaya pede abis)

Ibu 2: di eL-eS-eNG itu kerjanya apa bu?

Ibu 3 : Anak saya berjuang membela HANG………

Ibu 1 dan ibu 2 : ?!?!??!?!?!??!?!?!

Nah bagi yang bingung dengan cerita 2 di atas, saya bantu yang dengan contoh perubahan kata karena glossary berikut menjadi sumber kelucuan di story 2 ini

Indovisiong, maksudnya indovision, layanan tivi kabel terkemuka di Indonesia

BUMN  –> Be-U-eM-eNG = Badan Usaha Milik Neng Geulis

Telkong, sebenarnya merujuk pada Telkom

LSM –> eL-eS-eNG = Lembaga Swadaya NGasyarakat

HAM –> HANG = Hak Asasi NGanusia.

Semoga bermanfaat teman. S E K I A N G

Orang Bugis-Makassar sangat terkenal dengan jiwa kekeluargaan serta rasa solidaritas yang tinggi. Mungkin karena sejak kecil anak-anak suku Bugis-Makassar telah diajarkan untuk saling berbagi dan menolong sesama. Tali persaudaraan kian terasa erat saat berada  di tanah rantau. Tak heran, ketika ke Kalimantan saya dilayani dengan sangat ramah ketika supir angkotnya tahu saya orang Bugis. Sewaktu jalan-jalan ke Kyoto pun, saya dengan mudah mendapatkan tumpangan gratis dari seorang dosen Universitas Hasanuddin yang juga orang Bugis dan sedang kuliah disana. Hehehe

Kalau pernah nonton acaranya John Pantau yang berkunjung ke sebuah desa perbatasan Indonesia-Malaysia. Di desa tersebut terdapat sebuah rumah yang posisinya berada di Indonesia dan Malaysia. Jadi bagian depan rumah tersebut adalah wilayah kedaulatan Republik Indonesia dan di bagian belakang rumah tersebut merupakan wilayah negeri jiran. Si empunya  rumah sendiri mengaku kalau mereka itu makannya di Indonesia dan buang air nya di Malaysia. (Saya sampe ngakak saat nonton acara ini). Nah, yang lebih mengejutkan lagi, ketika berkunjung ke pasar desa ini, bahasa yang umum digunakan bukan Bahasa Indonesia maupun Bahasa Malaysia, melainkan Bahasa Bugis. Menawar barang menggunakan Bahasa Bugis merupakan senjata ampuh untuk mendapatkan diskon.

Nah, dari pejelasan di atas, apa hubungannya dengan OKKOTS? Sebenarnya tidak ada, cuman cerita OKKOTS berikut bercerita mengenai seseorang anak rantau asal Bugis yang bersilaturrahmi ke rekan nya sesama orang Bugis.

ada ayang, anjin dan kucin

Cerita ini tentang seorang anak rantau asal Bugis (si A) yang mengunjungi rekannya sesama orang Bugis (si B) di tanah rantau.

Si A memasuki pekarangan rumah si B. Pintu rumahnya terbuka. Ada seekor ayam bangkok (rooster) yang parkir di depan rumah si B.

A : Assalamu AlaikuN !!!!!

Terdengar suara si B dari dalam, “Wa Alaikun Salan….. Eh si A, mari masut masut“.

Si A masuk lalu duduk di sofa setelah dipersilahkan oleh tuan rumah. Percakapan dimulai dengan basa-basi kemudian dilanjutkan dengan kabar keluarga di kampung, kabar mengenai kerjaan masing-masing di tanah rantau. Percakapan mereka sempat terganggu karena tiba-tiba si ayam bangkok berkokok dengan lantangnya:

Kukuruyut Kukuruyut Kukuruyut“.

Percakapan dimulai lagi.

Namun, pembicaraan terganggu lagi karena anjing dan kucing milik si B sedang kejar-kejaran di halaman.

Anjin : GoNGoNGoN

Kucin : MeonMeonMeon..

*****************************That’s all, Folks*****************************

  • Picture is taken from http://images.travelpod.com/users/drunkendidier/1.1254056868.a-rooster-cat-dog-and-donkey.jpg

Belajar Okkots (Part 2)

Posted by cipu on Feb-11-2010

Setelah mengetahui salah satu bentuk OKKOTS di Postingan belajar OKKOTS yang pertama. Semakin banyak rekan-rekan non- Makassar yang makin fasih melafalkan OKKOTS dan memainkan akhiran N dan NG dengan baik. Two Thumbs Up for You, Dudes. Saya berpikir, sekaranglah saatnya kita mencoba menilik bentuk OKKOTS yang lain. Tapi, jangan anggap ini sebagai sebuah bab dari diktat kuliah yang membosankan, tapi anggaplah penjelasan ini sebagai hiburan.

Selain OKKOTS bentuk N dan NG, ada banyak bentuk OKKOTS yang lain. Kali ini saya akan menjelaskan mengenai bentuk OKKOTS K dan T. Umumnya, masyarakat Sulawesi Selatan juga banyak melakukan OKKOTS saat menemukan ada kata yang berakhiran K atau T. Jika sebuah kata berakhiran konsonan K, maka kadang dilafalkan menjadi T. Begitupun sebaliknya, Jika sebuah kata berakhiran T, maka kadang pelafalannya berubah menjadi K. Selain itu, bentuk OKKOTS K dan T yang paling simpel adalah dengan mengganti ujung kata dengan apostrof (tanda petik) –> ‘

Contoh:

Kata “semak-semak”, jika di-okkots-kan berubah menjadi semat-semat atau sema’-sema’ (pengucapan sema’-sema’ mengikuti huruf “Ain” tanwin dalam Bahasa Arab). :p

Kata “cantik”, jika di-okkots-kan bisa menjadi cantit atau bisa pula menjadi canti’.

Bagaimana OKKOTS K dan T terjadi dalam kehidupan sehari-hari? Saya ada dua cerita yang mungkin bisa membantu.

Story no.1

Sejak kecil, saya memang sudah terlatih untuk mengoreksi OKKOTS seseorang, meski saya sendiri kadang tak luput dari OKKOTS. Saya ingat betul saat saya masih SMA, kebetulan hari itu ada pelajaran olahraga. Saya dan teman-teman sekelas sedang berjemur di lapangan, siap siap untuk berolahraga. Sang Guru Olahraga mulai memimpin kegiatan pemanasan, beliau memberikan aba-aba yang kami ikuti.

Temang Temang SMA yan takkang Kulupakang

Guru Olahraga (GO) : Ayo, semuanya lakukan pemanasan…… (Guru ku ini tidak mengidap sindrom OKKOTS N dan NG)

Siswa (S) : (Bersiap-siap mengikuti aba-aba)

GO :  Ayo tangan direntangkan……….

S : (merentangkan tangan)

GO : Ayooo sekarang, otoK-otoK ditekuT

Saya kebingungan, mencoba memahami makna kata tersebut, saya sempat mengalami Krik Krik Moment selama beberapa detik, baru kemudian ngeh kalo ternyata yang dimaksud adalah OTOT-OTOT DITEKUK. Yang lebih mengherankan lagi, banyak teman sekelas saya yang serta-merta menekuk otot kaki mereka mengikuti aba-aba. Saya cuman bisa kagum dengan mereka. Mereka mampu menginterpretasikan sebuah perintah OKKOTS tanpa perlu berpikir lama, sedangkan saya sempat telmi beberapa saat. Salut deh buat teman-teman sekelasku.

Story no. 2

Ini adalah cerita nyata yang diceritakan langsung oleh sepupu saya yang cantik jelita bernama Mia. Ini terkait dengan bos nya yang memang OKKOTS nya gak ketulungan.  Setelah mengikuti meeting, si Bos bermaksud menegur Mia yang menurut nya berpola pikir sempit. Mia pun mendapat ceramah pagi pagi dari sang Bos:

“Kamu itu sebagai Karyawang harus kreatif. Kamu harus mencoba merubah mainseks mu”

Mia cuman bisa terbengong-bengong, gak ngerti kenapa dia disuruh merubah mainseks. Sepupu ku ini kan belom menikah. Setelah sempat melongo beberapa detik, Mia akhir nya baru sadar kalo yang dimaksud dengan mainseks adalah “mindset“. Oh Mai Got.

Mia pun bergegas menceritakan kejadian tadi ke Saya. Akhirnya, cerita Mia masuk ke http://okkots.com