oil trading

okkots.com

okkots itu bukang kekurangang, melainkang kelebihang

Ho Chi Minh kota penuh OKKOTS

Posted by cipu on Mar-13-2010

Setelah sehari menghabiskan waktu di Ho Chi Minh, saya sadar bahwa posisi Makassar sebagai kota OKKOTS dunia bisa tergeser oleh Ho Chi Minh. Kenapa bisa?

Hari kedua di Ho Chi Minh, saya habiskan dengan mengunjungi beberapa spot menarik di sana. Ada War Remnant Museum, Quoc Tu Pagoda dan Reunification Palace. Untuk mengetahui cerita lebih detail tentang perjalanan saya silahkan klik catatan perjalanan saya hari pertama, kedua, ketiga dan keempat.

Supir taksinya ngomong Vietnam, kami ngomong Inggris, yah ga nyambung lah...

Pak Supir ngomong Vietnam, kita ngomong Inggrais.. yah gak nyambung lah

Moda transportasi yang saya gunakan adalah taksi. Kenapa? Bukannya lebih mahal. Jawabnya: justru murah karena perjalanan ini saya lakukan bertiga. Saya ada dua travel buddies kali ini, Vonny dan Mila. Beberapa kali menggunakan taksi, saya mencoba berkomunikasi dengan supir taksi yang notabene cuma tahu kata “yes”, “no” dan “i don’t know”. Saya mulai mengeja setiap plang toko yang saya temui. Dan pak supir taksi membenarkan dan mengajarkan pelafalan yang benar.

Misalnya:

Kata “Linh Trung” (maaf saya tidak tahu artinya, soalnya pak Supir kagak nyambung saat diajak ngobrol in English, pengen make Bahasa Bugis juga ga enak, ntar pak Supir terkagum-kagum lagi dengan penguasaan bahasa saya), ternyata “Linh Trung” kalau dibaca menjadi “LIN CRUM”. See? “NG” menjadi “M”. –> Salah satu pertanda OKKOTS.
Contoh lain, orang Vietnam banyak yang memulai nama dengan “NGUYEN”, ternyata kalo dibaca menjadi “NGUWENG”, huruf E pada suku kata WENG dibaca seperti halnya huruf E pada kata OBENG. Dan sekali lagi huruf “N” menjadi ‘NG di ujuN. –> Bukti lain terjadinya OKKOTS.

Sebuah jalan yang namanya DIEN BIEN PHU dibaca “DIENG BIENG PHU”. –> another OKKOTS sigh

Sewaktu perjalanan ke Kamboja, kami harus melewati perbatasan dan harus mendaftar visa on arrival di Moc Bai. Kebetulan, bus yang kami tumpangi memiliki agen yang membantu pengurusan visa di perbatasan. Jadi kami hanya menyerahkan paspor ke beliau dan beliau yang mengisi visa form. Nah begitu visa form selesai, dia mengembalikan visa form kepada saya untuk ditandatangani. Apa yang terjadi? Namaku yang aslinya “SAIFUDDIN” berubah menjadi:

Huaaaa, kenapa nama ku jadi SAIFUDDING, sejak kapan ada G di ujung??

Dan sayapun makin yakin bahwa OKKOTS memang sudah mendarah-daging disini. Mungkin diwariskan turun temurun kali yah.
Banyak sekali contoh okkots yang saya temui di Ho Chi Minh. Semua bukti dan fakta telah menunjukkan bahwa kota ini sangat layak menjadi “KOTA OKKOTS KEDUA DUNIA”, setelah Makassar tentunya.

So congrats to Ho Chi Minh . Kota yang saya nobatkan sebagai KOTA OKKOTS KEDUA DUNIA. (sambil menggunting pita di depan Reunification Palace).

INTERMEZZO

Dua ibu-ibu sedang bercakap-cakap .
Ibu 1: Eh Bu? Udin mana? jalaNG yah (serem amat yah si ibu 1 ini ngatain anak orang jalang)
Ibu 2: Oh iya anak saya, si Udin itu meman suka jalang-jalang
Ibu 1: Jalang-jalang kemana?
Ibu 2: Kalo tidak salah, ke Ho Chi Ming
Ibu 1: Dimana itu? China?
Ibu 2: Bukang don…. (maksudnya Bukan dong!). Ho Chi Ming itu di Vietnang, dekat Thailang (pembicaraan makin ngaco).
Ibu 1: Thailang itu yang ibukotanya Bangkot kang?
Ibu 2: Salah… Thailang itu ibukotanya Phukek.
(Nah loh)

Bu Dokter Bu Dokter, Saya Okkots Lho!!!

Posted by cipu on Mar-12-2010

Saudara-saudara yang Budiman,

Sering tidak kita mencoba melihat sejauh mana fenomena OKKOTS ini menjangkit ke orang-orang sekeliling kita? Di sektor mana saja sih OKKOTS ini kerap digunakan?

Nah, kalau penasaran. Saya akan mencoba menjawab pertanyaan ini dari sudut pandang pribadi saya. Yang lain gak boleh protes yah, kalau protes bayar lho….

Menurut pengamatan saya (cieeeeehhhh peneliti mode: ON), Okkots itu tidak hanya muncul di lingkungan anak sekolah saja, tapi juga merambah ke dunia kerja tanpa ada bias profesi. Ahli bahasa pun bisa OKKOTS lho. Hanya saja, sering kita tak sadar bahwa kolega atau klien kita sedang OKKOTS, karena telinga kita sudah sangat terbiasa dengan OKKOTS.

Mangganya si Harun memang Manis (lol)

Kali ini, seorang sepupu saya yang dokter hendak berbagi pengalamannya bersama pasien-pasiennya yang OKKOTS. Begini testimoni sepupu saya yang dokter itu:

(musik intro pun mulai mengalun mengawali cerita)

Pengalaman okkots sejak koas sampe menjalani pendidikan spesialisasi saat ini sebenarnya banyak sekali, dan si empunya website ini memaksa saya untuk bercerita, mungkin karena website ini sudah kekurangan bahan. OKKOTS saya dengar dari pasien atau keluarga pasien sehari-hari(yang memang rata-rata pendidikannya tidak tinggi-tinggi amat, malah boleh dikata syukur2 kalo sekolah), hanya saja saya belum tertarik untuk merekam atau mem-video-kannya seperti yang diharapkan oleh empunya website ini (dia emang terkadang agak stres) . Kalau dulu waktu awal bertemu pasien, hal itu bisa jadi bahan tertawaan seharian dengan teman sesama koas. Tapi karena tiap hari ada saja yang okkots, akhirnya kami pun cuet bebet…Berikut beberapa pengalaman okkots saat anamnesa dengan pasien atau keluarganya…

Saat itu saya mengunjungi salah seorang pasien. Saya (D) dan Pasien (P)

D : Sore, Pak

P: Sore Dok

D: Pak, bagaimana perasaanya sekarang?sudah baikan?

P : Tadi malam sudah tidak sesat dok..sudah lebih enak…

Yah si pasien ternyata masuk rumah sakit karena termasuk ke dalam golongan orang-orang sesat. Ampunilah dia……..

D: (Manggut2 mengerti, saya sangat mengerti maksud pasien adalah sesak napas)

OKKOTS 2

Kalo yang ini percakapannya terjadi antara Dokter (D), Pasien (P),  Keluarga Pasien (KP)

D   :Selamat pagi pak…apa keluhannya?(Sebenarnya pasien kurang memahami kalo ditanya seperti ini…biasanya langsung saja, sakit apa pak?)

P    : Anu dok..

KP : Semalam badannya kejam-kejam dok….

What?? Badannya kejam…. Abis dicambuk kaleeeeeeeee

D   :Oooh…(Mengerti kalo yang dimaksud adalah ‘kejang-kejang’)

********

Nah guys, itu tadi testimoni dari sepupu saya yang dokter. Jika kalian punya cerita menarik atau gambar menarik tentang OKKOTS, bisa kirim ke saya di cipu.civil@gmail.com

Cerita dan gambar akan diedit sesuai kebutuhan dan akan digunakan oleh empunya website sebebas-bebasnya tanpa komplain dari si pengirim, hehehehe

The Power of 6

Posted by cipu on Mar-8-2010

Pernah gak sih punya masalah dengan penyebutan angka? In my hometown, wo do have this issue. OKKOTS telah merubah pelafalan angka dalam Bahasa Indonesia. Nggak sampe jauh banget sih bedanya, tapi cukup membingungkan saat digunakan sehari-hari. Okkots dalam pelafalan angka terkadang bisa fatal juga akibatnya. Sebelum memulai bercerita, mungkin saya akan tunjukkan bagaimana transformasi penyebutan angka ini ketika dilafalkan dalam OKKOTS.

Formatnya: Angka –> Pelafalan –> Okkots version

1  –> Satu –> Satu (Tidak berubah)

2 –> Dua –> Dua (Tidak berubah juga)

3 –> Tiga –> Tiga (Masih tetap sama)

4 –> Empat –> Empak/Empa’ (Berubah di ujun)

5 –> Lima –> Lima (stay the same)

6 –> Enam –> Anang/Enang (Berubah)

7 –> Tujuh –> Tujuh (Tetap sama)

8 –> Delapan –> Lapang (Pemenggalan suku kata depan)

9 –> Sembilan –> Sembilang (Penambahan “G”)

10 –> Sepuluh –> Sepuluh (tetap sama).

Tidak semua angka yang mengalami perubahan pelafalan. Yang berubah cuma 4, 6, 8, dan 9.

Beginilah dampaknya

the power of six in OKKOTS

KD Mata Keranjang

Seorang nenek sedang menonton infotainment ditemani cucu nya tersayang. Berita nya tentang album terbaru Krisdayanti (KD), kejadiannya sebelum KD bercerai. Si nenek nampak nya sangat kagum dengan Krisdayanti. Dia pun mencoba menggali informasi tentang KD dari cucu nya

Nenek : Wuihhhh  cantit nya Krisdayanti…… Ckckckckck

Cucu   : Iya Nek… dia dari dulu memang cantik

Nenek :  Siapa suami nya Krisdayanti kah? (Dengan logat Makassar kental)

Cucu   : ANANG

Si Nenek menganga…… Mukanya seolah-olah tidak percaya. “Dasar, cantik cantik ternyata suka KAWING, masak suaminya sampai ANANG, suami itu cukup satu saja…tidak perlu sampai ANANG…… Krisdayanti betul betul Mata KeranjaN“, si Nenek meradang.

Si Nenek yang geram langsung memindahkan channel. Si Cucu cuma melongo, tidak sadar dia salah apa sampe si Nenek geram begitu.

Gemes sih sebenarnya pengen bilang ke si Nenek…. suaminya KD tidak sampe ENAM nek, tapi namanya Anang. Eh sekarang si KD bukannya sedang tidak punya suami yah (Gosip mode: ON). Xixixixix.

Berenam

Percakapan antara seorang ibu dan anaknya. Si anak sedang bersiap siap keluar rumah.

Ibu   : Mau kemana?

Anak: Mau BERENAM, Mak…….

Ibu : Mau BERENAM dimana??

Anak: Disitu, di KOLANG RENAM Bayangkara

Ibu : Oh berapa orang?

Anak: BERENANG Mak sama Dudik, Boni, Alam, Ahmad……. Andi. Maunya bertujuh, tapi Badu ndak ikuk….

Ibu : Oh kalo begitu hati hati nah…..

Anak : Iya Mak….. Berangkat dulu… Assalamu AlaikuN

Hehehehe, anak dan ibu yang sama sama okkots. Herannya, mereka saling mengerti. Guys, masih bisa ngikutin gak cerita ini….. Kalo masih kurang jelas tanya langsung ke saya yah.

Btw, sebelum menutup postingan ini. Saya ada pertanyaan. Rubahlah kalimat berikut ini menjadi sebuah kalimat okkots sempurna:

Kami berenam akan berenang di Kolam Renang Bhayangkara karena kolamnya besar dan pengunjungnya sedikit.

Bagi yang mau tahu jawabannya silahkan klik “read the rest of this entry” dibawah ini

Read the rest of this entry »

Mbak Wati yang Bukan Hidangan

Posted by cipu on Mar-4-2010

Di Sulawesi Selatan, angkutan antar kota yang paling umum digunakan adalah mobil-mobil sejenis Avanza, Panther, Innova atau Xenia. Jenis mobil inilah yang juga sering saya gunakan saat pulang kampung ke Sidrap sewaktu saya masih kuliah. Namun, bukan berarti bahwa bus tidak populer. Di daerah kami, bus antar kota juga ada, namun tidak sepopuler mobil mobil kecil seperti kijang dan sebangsanya. Dan berbeda dengan Jawa, di Sulawesi keberadaan bus AC tidak begitu banyak, bus AC hanya dijumpai untuk trayek-trayek tertentu seperti ke Makassar – Toraja, Makassar – Pare-pare, dan Makassar – Soroako. Bus bus trayek yang lain juga pake AC sih, tapi bukan Air Conditioner, melainkan Angin Cendela. Hehehehe. Yang habis facial disarankan jangan pulang kampung menggunakan bus jenis ini, ntar hasil facialnya gak keliatan.

Yang sering ke Pare-pare, mungkin sudah tidak asing dengan penggunaan Patas AC (Damri). Layanan bus ini segera menyedot peminat ketika pertama kali diluncurkan, maklumlah kami di Sulawesi jarang menikmati layanan bus AC. Jarak tempuh Makassar – Pare-pare selama kurang lebih 3 jam terasa lebih singkat karena teriknya matahari sudah tidak terasa lagi, bus nya pake AC gitu loh…

what's wrong with this pic?

Adalah Icha, salah seorang teman baik saya yang sempat menggunakan layanan Patas AC jalur Pare-pare – Makassar. Icha dan kawan-kawannya waktu itu rencana bertolak dari Pare-pare menuju Makassar. Patas AC menjadi pilihan mereka. Untuk mengusir kebosanan, Icha dan teman-temannya membeli tabloid dan koran, lumayan lah buat bahan bacaan di bus.

Bus pun bertolak dari Pare-pare menuju Makassar, melewati Barru, Pangkep dan Maros. Saat meninggalkan Pare-pare, bus ini juga ternyata memiliki hiburan sendiri. Tersebutlah seorang wanita bernama Wati yang ditakdirkan menghibur Icha dan seisi Patas pada hari itu. Wati sehari-harinya mengamen di Patas AC. Saat bus mulai meninggalkan Pare-pare,  Wati mulai menyanyikan sebuah lagu yang saya yakin teman- teman tahu. Sebuah lagu dangdut lawas dari Hetty Sunjaya berjudul Aku Bukan Hidangan (Ayooo, jangan pura-pura ga tau yah, pasti tau kan lagu ini?)

Sambil ber joget alakadarnya dan ditemani suara kecrekan, Wati mulai bernyanyi:

Jangam lah tenggelang kalau kau memandam tubuh ku

Jangam lah kau mabut kalau aku sedam tersenyum

Icha dan kawan-kawannya mulai menyadari ada ketidakberesan dalam lirik lagu yang baru saja mereka dengar. Mereka mulai mendengarkan secara seksama.

Memasuki reff, Wati mulai meningkatkan kualitas performance nya. Bak seorang professional yang sedang menghayati lagunya, Wati menutup mata dan menutup salah satu telinganya dengan tangan kiri nya saat memasuki Reffrain lagu:

Aku ini bukam lah makanam yam dihidamkam

Atau pula minumam yam selalu memabukkam ……

Kali ini Icha dan kawan-kawan sudah tak tahan lagi, untungnya mereka bawa tabloid. Sambil pura-pura membaca tabloid, Icha and the gank cekikikan dibalik rimbun tabloid. Untung pula Wati tidak menyadari aksi Icha and the Gank, bisa ngamuk Mbak Wati karena merasa dilecehkan. Upssss.  Guys, kira-kira sadar gak sih kenapa Icha and the Gank sampe ngakak? Hehehehehe

Oh iya buat kalian yang (pura-pura) ga tau lagu ini, saya lampirkan video nya. Kan lumayan buat joget. Tarik Maaang……

Aku Bukan Hidangan – Hetty Sunjaya

Saat Kami Berlogat ala Jakarta

Posted by cipu on Feb-27-2010

Tuntutan menjadi keren atau kedengeran gaul memang lumrah. Banyak diantara kita yang berusaha tampak keren melalui outfit, lifestyle atau mungkin lewat gaya bicara.Sejumlah orang memang senang menjadi pusat perhatian dan selalu ingin terlihat menonjol dibanding dengan yang lain. (Saya termasuk kali yah, hehehe)

Saya ingat sekali jaman-jaman kuliah dulu di Makassar, bahasa yang kami pergunakan sehari-hari di kampus adalah Bahasa Indonesia dengan aksen Makassar yang sangat kental manis (maksudnya terdengar sangat kental namun tetap manis, hehehe). Namun, selain itu, banyak juga rekan-rekan yang sangat konsisten berusaha menggunakan logat Jakarta dengan gaya “lo lo gua gua”. Bagi mereka yang memang gede di Jakarta, hal tersebut mungkin dengan mudah dilakukan mengingat pergaulan dan lingkungan memang sangat mempengaruhi cara berbicara seseorang. Tapi, bagi mereka yang berniat latah berlogat Jakarta dan dari kecil gedenya di pematang sawah dan kali, mungkin penggunaan logat jakarta dengan segala tetek bengek nya menjadi sedikit sulit. Analogi nya yah seperti memaksakan seseorang yang terbiasa makan ikan asin untuk mengkonsumsi roti plus keju.

Saat penggunaan logat Jakarta ini dipaksakan, kerap timbul kesalahan-kesalahan yang lucu, bikin tengsin dan bisa menimbulkan kesalahpahaman. Saya jadi teringat sebuah pengalaman unik tentang penggunaan logat Jakarta yang kurang tepat.

Ada yang bisa menemukan OKKOTS gak di foto ini?

Ada yang bisa menemukan OKKOTS gak di potoh ini?

where is my sandal?

Waktu itu kami sedang berkumpul di kos-kosan salah seorang temen. Saya dan beberapa teman lagi ngumpul buat belajar bareng, siap siap UMPTN. Salah seorang rekan cewek sedang menunggu jemputan pacarnya. Tak berapa lama pacar si cewek datang, dan dia pun bergegas ke pintu depan menyongsong sang pacar. Tapi kemudian dia kembali masuk menemui kami, dia nampak mencari-cari sesuatu.

Dengan logat Jakarta yang merdu, dia bertanya: “Hei kalian….. SENDAL GUA MANA NGGAK?”

Kami sempat melongo…. Namun beberapa detik kemudian kami serempak menjawab: “NGGAK”.

Yah kami semua tahu, pertanyaan yang dimaksud adalah: “LIAT SENDAL GUA NGGAK”.

Ah ada ada saja.

HOWDY, Guys

Saat itu, ada pertemuan dengan beberapa rekan Makassar di sebuah cafe di Jakarta. Beberapa rekan telah datang di cafe, pertemuan sesama anak rantau memang selalu seru. Membahasa kisah konyol semasa kuliah dan membahas kerjaan masing masing di Jakarta. Tersisa seorang rekan yang belum datang, dia baru sekitar sebulan di Jakarta, jadi mungkin sedikit tersesat di jalan, maklumlah anak baru.

Tak berapa lama, dia pun tiba. Dan langsung menyapa kami semua. Sebuah sapaan dengan maksud untuk menunjukkan identitas barunya sebagai “The Jakarta People”. Sebuah sapaan yang singkat, ramah namun salah kaprah.

“Hai Semua, Apa Kabar Yuk”

Jyaaaaah, bro mending pake “Aga Kareba” kali. Daripada belepotan gitu.