Ho Chi Minh kota penuh OKKOTS
Setelah sehari menghabiskan waktu di Ho Chi Minh, saya sadar bahwa posisi Makassar sebagai kota OKKOTS dunia bisa tergeser oleh Ho Chi Minh. Kenapa bisa?
Hari kedua di Ho Chi Minh, saya habiskan dengan mengunjungi beberapa spot menarik di sana. Ada War Remnant Museum, Quoc Tu Pagoda dan Reunification Palace. Untuk mengetahui cerita lebih detail tentang perjalanan saya silahkan klik catatan perjalanan saya hari pertama, kedua, ketiga dan keempat.
Moda transportasi yang saya gunakan adalah taksi. Kenapa? Bukannya lebih mahal. Jawabnya: justru murah karena perjalanan ini saya lakukan bertiga. Saya ada dua travel buddies kali ini, Vonny dan Mila. Beberapa kali menggunakan taksi, saya mencoba berkomunikasi dengan supir taksi yang notabene cuma tahu kata “yes”, “no” dan “i don’t know”. Saya mulai mengeja setiap plang toko yang saya temui. Dan pak supir taksi membenarkan dan mengajarkan pelafalan yang benar.
Misalnya:
Kata “Linh Trung” (maaf saya tidak tahu artinya, soalnya pak Supir kagak nyambung saat diajak ngobrol in English, pengen make Bahasa Bugis juga ga enak, ntar pak Supir terkagum-kagum lagi dengan penguasaan bahasa saya), ternyata “Linh Trung” kalau dibaca menjadi “LIN CRUM”. See? “NG” menjadi “M”. –> Salah satu pertanda OKKOTS.
Contoh lain, orang Vietnam banyak yang memulai nama dengan “NGUYEN”, ternyata kalo dibaca menjadi “NGUWENG”, huruf E pada suku kata WENG dibaca seperti halnya huruf E pada kata OBENG. Dan sekali lagi huruf “N” menjadi ‘NG di ujuN. –> Bukti lain terjadinya OKKOTS.
Sebuah jalan yang namanya DIEN BIEN PHU dibaca “DIENG BIENG PHU”. –> another OKKOTS sigh
Sewaktu perjalanan ke Kamboja, kami harus melewati perbatasan dan harus mendaftar visa on arrival di Moc Bai. Kebetulan, bus yang kami tumpangi memiliki agen yang membantu pengurusan visa di perbatasan. Jadi kami hanya menyerahkan paspor ke beliau dan beliau yang mengisi visa form. Nah begitu visa form selesai, dia mengembalikan visa form kepada saya untuk ditandatangani. Apa yang terjadi? Namaku yang aslinya “SAIFUDDIN” berubah menjadi:
Dan sayapun makin yakin bahwa OKKOTS memang sudah mendarah-daging disini. Mungkin diwariskan turun temurun kali yah.
Banyak sekali contoh okkots yang saya temui di Ho Chi Minh. Semua bukti dan fakta telah menunjukkan bahwa kota ini sangat layak menjadi “KOTA OKKOTS KEDUA DUNIA”, setelah Makassar tentunya.
So congrats to Ho Chi Minh . Kota yang saya nobatkan sebagai KOTA OKKOTS KEDUA DUNIA. (sambil menggunting pita di depan Reunification Palace).
INTERMEZZO
Dua ibu-ibu sedang bercakap-cakap .
Ibu 1: Eh Bu? Udin mana? jalaNG yah (serem amat yah si ibu 1 ini ngatain anak orang jalang)
Ibu 2: Oh iya anak saya, si Udin itu meman suka jalang-jalang
Ibu 1: Jalang-jalang kemana?
Ibu 2: Kalo tidak salah, ke Ho Chi Ming
Ibu 1: Dimana itu? China?
Ibu 2: Bukang don…. (maksudnya Bukan dong!). Ho Chi Ming itu di Vietnang, dekat Thailang (pembicaraan makin ngaco).
Ibu 1: Thailang itu yang ibukotanya Bangkot kang?
Ibu 2: Salah… Thailang itu ibukotanya Phukek.
(Nah loh)







