oil trading

okkots.com

okkots itu bukang kekurangang, melainkang kelebihang

Mia and her Okkots bos (part 2)

Posted by cipu on Sep-2-2010

Okkots ternyata adalah sebuah kebiasaan yang memang susah dihilangkan kalau sudah men-bloody meat (mendarah daging, red). Selain okkots okkots yang pernah saya ceritakan, ternyata banyak jenis okkots lain yang muncul entah sebagai hasil dari kreativitas atau karena lidah yang memang susah diarahkan.

Saat awal membuat blog ini, persepsi saya tentang Okkots adalah perubahan konsonan di akhir setiap KATA. Namun survei membuktikang bahwa Okkots ternyata juga bisa terjadi di setiap akhir SUKU KATA. Fenomena apakah ini? Yang pasti ini bukan fenomena pemanasan global. Camkan itu.

Okkots model baru, Okkots di tengah kata. kasian mbak Fatma

Masih ingat Mia kan? Sepupuku yang punya bos okkots beyond help (Okkotsnya gak ketulungan, red). Kalau belum kenal, klik nih cerita pertama dari dia. Okkots yang saya ceritakan di atas, ternyata pernah juga dialami oleh Mia. Sungguh beruntung dia punya bos OKKOTS, saya berharap bisa sekantor sama Mia, soalnya kalau bisa sekantor, mungkin saya sudah menulis 3 buku tentang OKKOTS atau bikin buku berjudul My Stupid Okkots Boss.

Berikut penuturan Mia:

Hari pertama kerja setelah perkenalan dengan semua teman 1 tim saya kemudian diajak keliling berkenalan dengan  karyawan lain pada divisi yang akan sering berhubungan dengan pekerjaan saya.

Bos         : kenalkanG ini Mia,  HRO kita yang baru. Mia ini Ekwak dan ini Ekwing

Saya           :   (namanya kok aneh yah…..) Pak Ekwak, Pak Ekwing mohon saya dibantu ya dalam proses belajar nantinya

Bos         : saya tinggalkang kaliang dulu ya… saya ada meetin (mungkin karena terlalu akrab dengan okkots saya belum sadar kalau si bos dianugerahi sebuah kelebihan yakni: okkots)

Begitu bos berlalu, Pak Ekwak langsung angkat bicara

Ekwak     : Dek,  tolong lain kali jangan panggil kami dengan Ekwak

Ekwing    : iya, nama saya bukan Ekwing, tapi  Edwin

Ekwak     : dan saya Edward

Saya         : (keselek kedondong)

Morale of the story:

Karena okkots saya harus berkenalan 2 kali dengan orang yang sama.

*******************************************************************

my stupid boss fans stories

Sebelum menutup ceritan ini, saya mau sharing kalau tiga cerita saya berjudul Suster Ngesot Gak Ngesot lagi (hal 50), Si Bos dan Panci Jahanam (hal 313) dan Bos Makan Ibu (hal 318) dimuat di buku “My Stupid Boss Fans Stories”. Asli bukunya bikin ngakak deh, kalau tertarik silahkan dapatkan di toko buku terdekat di tempat Anda.

Pertama-tama izinkan saya memohon maaf kepada rekan-rekan Okkots-ers karena jarang berokkots okkots ria di web ini. Biasalah saya abis terkena sindrom hiatus yang ber komplikasi dengan sindrom sibuk tiada tara plus  culture shock karena saya baru pindah tempat tinggal dan masih menyesuaikan diri dengan kondisi sekitar.  So, dimaafkan kan??

Well, cerita ini terjadi sekitar 4 bulan lalu ketika saya dalam perjalanan dari kota lumbung beras Sidrap menuju ke Makassar. Seperti biasa, saya selalu menggunakan jasa angkutan langganan saya. Kalau pake mobil langganan saya ini, artinya saya pasti duduk di depan di samping pak kusir supir yang mengendarai kuda mobil supaya baik jalannya. Tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk (halah kok nyanyi sih, hehehehehe).

Perjalanan lumayan lancar. Saya juga tidak terlalu ambil peduli dengan penumpang-penumpang lain karena keasyikan duduk di singgasana depan ditemani ipod yang menyanyikan lagu lagu keren khas Elvis (maksudnya Elvie Sukaesih, gitu). Lagian, saya enggan mendengar musik yang diputar oleh Pak Supir, Kenjen Band (baca: Kangen Band), really not my music. Memasuki Kabupaten Barru, saya mulai bosan mendengarkan musik di ipod sendiri, saya melepas ipod dan berharap pak Supir berganti haluan ke lagu-lagu Bugis Makassar, kali aja ada lagu lagu Bugis keren yang bisa dinikmati. Iya nggak? Ternyata, pak Supir juga sudah tak memutar lagu Kenjen band lagi (Thanks Lord), Pak Supir menggantinya dengan siaran radio AM.

Siaran AM nya sedang ada acara curhat curhat norak ala ABG gitu. Isu-isu yang sama terus berulang dari satu curhater ke curhater selanjutnya, advice yang diberikan oleh si mbak penerima curhat pun sangat standar dan monoton. Masalahnya selalu berputar di pacaran backstreet, dua sahabat yang naksir cowok yang sama, atau cewek yang dikhianati pacarnya. Saya tak begitu tertarik awalnya sampai radar okkots saya menangkap ada sesuatu yang janggal dalam sebuah percakapan.

Kring Kring

Mbak Ria (MR): Yah haloooooo , Sesi curhat mbak Ria, ini dengan siapa yah…..

Susan (S): ini dengan Susan, Mbak…….

Wah nama nya keren juga. Baru tahu kalau orang-orang di kampung namanya keren-keren. Namun, yang membuat saya hampir ngakak mendadak di angkutan adalah saat Mbak Ria memberikan respon:

MR: Ohhhh Susang yah, ini Susang dimana? (Wakakakakak and the okkots finally happened)

S: Saya di Pangkep, mau curhat ke Mbak Ria……. (Sayangnya si korban gak sadar kalau namanya telah dianiaya, lu kate si Susan lahir Sungsang……. ).

Dan belasan kata Susang pun meluncur deras dari mulut si Mbak Ria ini. Saya sudah tidak sempat lagi mendengarkan apa masalah si Susan, saya lebih berkonsentrasi dengan si Mbak Ria yang semakin konsisten okkots (Okkots nya Mbak Ria untungnya masih stadium 1, masih seputar N dan NG). Setiap kali Mbak Ria menyebut Susang, saya pasti senyum-senyum sendiri. Pak Supir sampe curiga ngeliat saya senyum-senyum sendiri.

Terjemahan: Rias Pengantin, Sanggul, Facial, Creambath dan Cuci Blow (Alamaaaaak yang desain ini kreatif banget yah)

Saya akhirnya mampu mengendalikan tawa agar tak meledak di dalam mobil. Untungnya, sesi curhat itu hampir berakhir.

S: Makasih Mbak Ria…….

MR: Oke, thanks teleponnya, BRO!!!!!!

What????? Sejak kapan Susan berubah jadi BRO. Udah jelas-jelas yang telepon tadi cewek bernama Susan, kok manggilnya Bro. Waduh mbak Ria ini sepertinya harus dikarantina sama macan jantan dulu deh biar bisa ngerti perbedaan Bro sama Sis.

Saya mau gak mau akhirnya tertawa tertahan di mobil gara-gara si Mbak Ria tadi. Pak Supir yang curigation melihat saya senyam senyum sendiri dengan ramahnya bertanya: “Ada apa dek, kok ketawa?”

Saya sambil cuman cengengesan menjawab: “Oh gak apa apa kok, Bro!!!!”

(Jyaaaaah jadi ketularan Mbak Ria deh).

Special thanks to Asri Muggle atas sumbangan foto-fotonya di Okkots dot com. Asri Muggle adalah pemuda kelahiran Rappang yang mendedikasikan hidupnya tidak hanya sebagai abdi negara tapi juga sebagai fotografer garis depan Okkots dot com (Tenang Bro, royalti akan tetap dibagi wkwkwkwkwk)

Mia and her Okkots boss (upsssss)

Posted by cipu on Apr-11-2010

Bekerja di salah satu perusahaan ternama, mengharuskan Mia dan bos nya travel ke berbagai daerah. Bagi Mia, duty travel seperti ini amat sangat tidak masalah. Mia menyukai travel, apapun embel-embel dibelakangnya, mau duty travel, backpack travel atau jenis jenis travel lainnya. Namun, bagaimana kesan nya Mia yah kalo lagi duty travel sama bos (yang katanya OKKOTS)…… Simak kisahnya:

maaf, tidak menerima bom... so yang mo belanja di warung ini, jangan nge-bom yah wakakakakakak

maaf tidak menerima bom... yang belanja di warung ini, jangan nge-bom yah :p

Pada saat kunjungan ke salah satu cabang di daerah Bone (semacam sidak). Setelah berkeliling melihat aktivitas di cabang, tim sidak  kemudian meeting untuk membahas apa saja yang perlu dikoreksi untuk perbaikan pelayanan.

Si bos pun memulai petuah dan wejangannya. Seperti Choki-choki, petuah bos ini paaaanjaaaaaang dan laaaamaaaaaaa.

Bos           : mohong agar penyimpanang file2 diusahakang serapih munkin agar tidak membingunkang pada saat kalian mencari berkas sehingga SLA service jadi  lebih  singkat dan kita bisa memaksimalkan pelayanan.

Jeda sejenak

Bos           : BLA BLA BLA (ngomong lagi -  memang kalo meeting dengan dia jadinya lebih seperti monolog karena dia ngomongnya ga mo berhenti dan ga membiarkan pendapat orang lain memotong petuahnya)

Dan akhirnya si Bos mengakhiri petuahnya dengan:

Bos            : tolong kalian cet di gudang belakan dan dirapikan lagi

Bos           : (lagi2 ngomong) jangan lupa ya kaliang cet ya.. gudang belakan

Sesi tanya jawab pun berakhir dengan sempurna. Tidak ada masalah berarti yang terjadi, seperti halnya di kota kota lain yang dikunjungi Mia dan Bos nya.

Namun, seminggu setelah kembali dari kunjungan cabang,  kantor Mia menerima reimburse untuk menggantikan biaya pembelian cat dan ongkos tukang,

Ternyata, ucapan si bos:

tolong kalian cet di gudang belakan dan dirapikan lagi

disalahtafsirkan oleh mereka di kantor cabang. Maksud si bos:

cek file file yang di gudang belakang dan rapikan.

Tapi ternyata orang-orang kantor cabang mengartikannya menjadi

tolong yah, gudang belakang di-cat biar rapi

Cape dehhhhh….. Ini siapa yang salah yah???? Hehehehe

Pelajaran yang dapat dipetik dari kisah ini adalah:

Okkots bisa menyebabkan pemborosan uang perusahaan

Mr Us-Us, the King of………..

Posted by cipu on Apr-1-2010

M r. U S -U S, t h e  K I L L E R

Adalah Ruri, teman saya semasa kuliah yang menuturkan cerita berikut. Ruri bekerja sebagai tenaga pengajar handal dan professional yang suka menabung dan tidak boros di sebuah lembaga bahasa Inggris terkemuka di Makassar. Lumrah kiranya seorang tenaga pengajar perempuan di panggil “ma’am” (baca: mem) oleh para muridnya. Panggilan ini ternyata tidak hanya diucapkan oleh para murid kepada tenaga pengajar perempuan, tapi para OB, staf bahkan driver pun ikut mengucapkan sebutan ini saat akan menyapa para guru wanita, termasuk Ruri. So, mereka memanggil Ruri dengan sebutan “ma’am“.

Suatu hari, Ruri berniat ke Malino untuk survei lokasi kegiatan yang akan dilaksanakan oleh kantornya. Ruri diantar oleh seorang driver kantor bernama pak Us-Us. Tahu sendirikan, kalau jalan dari Makassar ke Malino itu berkelok-kelok dan berliku-liku (hehehe, kelok sama liku sama saja kan?). Mobil yang dikendarai pak Us-Us mulai sedikit ngadat, dan sulit mendaki medan yang menanjak dan berliku. So, dia berniat mematikan AC, tapi demi etika Pak Us Us meminta ijin terlebih dahulu  ke Ruri dan rekan rekan pengajar lainnya di mobil itu…..

Pak Us-Us meminta ijin: “Mengs bunuh dulu AC nya yah… banyat tanjapam

Suasana mobil yang tadinya hingar-bingar karena suara cekikikan para penumpang, tiba tiba silent. Yup, keheningan tiba-tiba tercipta….. “Lo kata gua KOMENG, manggilnya pake “MENG”. Semuanya mencoba mencerna apa maksud pak Us-Us…. Mereka mencoba me-recall kembali apa yang pak Us-Us bilang…

“Meng, s bunuh dulu AC nya yah… banyat tanjapam

Dan, baru beberapa saat kemudian, tawa meledak lagi. Mereka baru tau maksud Pak Us-Us apa….. Maksud Pak Us Us adalah : “Ma’am, AC nya saya matiin dulu yah… banyak tanjakan”

Let’s see what’s wrong:

Pak Us-Us berkata “Mengs“, yang maksudnya “Ma’am”

Pak Us-Us berkata “bunuh“, yang dalam bahasa Indonesia sebenarnya “mematikan”. Jadi jangan bayangkan Pak Us-Us sebagai pemburuh berdarah dingin yah……

Pak Us-Us berkata “banyat tanjapam“, yang maksudnya : “banyak tanjakan”.

Sebutan Meng terus jadi populer banget di tempat Ruri mengajar..sampe sekarang semua orang kalo mo panggil teacher ato staff cewek pasti pake Meng!!

Tulisan yang sengaja di bolak balik.... tapi isinya curhat okkots seorang buruh di tembok rumah orang lain

L A K . . . . B A N

Waktu itu Pak Us-US lagi nulis sesuatu di gudang, terus Talib (OB) masuk dan nanya ke Pak Us-Us. Dan Percakapan pun tercipta:

Talib : Pak Us-Us lagi bikin apa?

P Us-Us : lagi tulis proposal buak mobil

Talib membaca kertas proposal pak Usman dan nanya : Ini yang nomor dua apa pak?

P Us-Us :Ohhhhhh,  itu Lak

Talib : Lak?? Apa itu?

P Us-Us: Masa nggak tau Lak sih??? Itu lho…. kaing buak bersih-bersih…..

Talib: ohhhhhh LAP yah???

Pak Us-Us: iyahhh, LAK

Talib : ????? (Kirain Lak Ban)

Glossary : buak = buat, kaing = kain, Lak = Lap

Tak heran, pak Us-Us mendapat julukan the King of Okkots…. nyaingin Michael Jackson, the King of Pop. Hehehehe. Pisss Pak Us-Us

Acknowledgement:

Thanks to Ruri atas cerita konyolnya

Seminar Nasional itu diwarnai OKKOTS

Posted by cipu on Mar-23-2010

Saat OKKOTS terucap di Makassar dan sekitarnya, pastinya masih banyak yang maklum. Setiap hari kan OKKOTS sudah menjadi rutinitas dan berdetak tiap hari dalam keseharian masyarakat Makassar dan sekitarnya. Yup, OKKOTS is the music of my province. (plesetannya agak ga nyambung yah, hehehe).

OKKOTs kerap diasosiasikan dengan keterbelakangan, kampungan dan tingkat pendidikan yang rendah. Banyak yang berpersepsi bahwa para OKKOTS-ers mengidap sindrom OKKOTS karena mereka bukannya mendapatkan pelajaran Bahasa Indonesi yang baik dan benar saat masih di sekolah, malah mempelajari Bahasa Indonesia yang baik dan BUGIS. Anggapan tersebut memang ada benarnya, namun tak sepenuhnya benar. Toh, banyak kok kalangan akademisi yang sering OKKOTS. Coba perhatikan di ruang kelas atau ruang kuliah, terkadang dosen atau guru secara tak sadar mengucapkan sebuah kalimat dalam OKKOTS. Dulu, saya sendiri punya kebiasaan yang tak biasa, menghitung berapa kali guru saya OKKOTS, lalu mencocokkan hasil perhitungan saya dengan beberapa teman yang lain yang hobinya sama. Kurang kerjaan kan? Hehehehe, Saya setuju bagi yang menjawab IYA.

Ungkapan Cinta Daeng Becak yang Tertuang Dalam Ornamen Becaknya

Jadi ingat cerita dari seorang teman tentang temannya yang bernama Syarifuddin. Syarifuddin ini adalah seorang akademisi sekaligus praktisi. Kebetulan suatu hari dia  mendapat undangan mengikuti sebuah seminar Nasional di Bandung.

Syarifuddin pun memenuhi undangan ini. Setibanya di Bandara Soekarno Hatta, dia segera menuju ke Bandung. Sampai di hotel tempat perhelatan seminar, Syarifuddin segera menuju ke meja registrasi. Dia disambut oleh mbak panitia yang sedang sibuk mendaftarkan peserta yang sudah mulai antri.

Tiba gilirannya, Syarifuddin pun memulai proses registrasinya.

Syarifuddin : Saya mau registrasi Mbak

Panitia          : Baik Pak, nama Bapak siapa?

Syarifuddin : SYARIFUDDING, tidak pake huruf  “G” yah di ujuN….. (Kata Syarifuddin dengan gaya sangat meyakinkan).

Panitia          : Okeh, nama bapak SYARIFUDDING yah (mengecek daftar peserta sejenak). Maaf pak disini yang ada atas nama Bapak SYARIFUDDIN dari Makassar.

Syarifuddin : Nah itu dia. SYARIFUDDING kang? tidak pake G di ujuN. (masih dengan keyakinan seratus persen)

Panitia          : ????????(BIngung, tulisannya apa telinga saya yah yang salah)

Hehehehehe……..