The Power of 6
Pernah gak sih punya masalah dengan penyebutan angka? In my hometown, wo do have this issue. OKKOTS telah merubah pelafalan angka dalam Bahasa Indonesia. Nggak sampe jauh banget sih bedanya, tapi cukup membingungkan saat digunakan sehari-hari. Okkots dalam pelafalan angka terkadang bisa fatal juga akibatnya. Sebelum memulai bercerita, mungkin saya akan tunjukkan bagaimana transformasi penyebutan angka ini ketika dilafalkan dalam OKKOTS.
Formatnya: Angka –> Pelafalan –> Okkots version
1 –> Satu –> Satu (Tidak berubah)
2 –> Dua –> Dua (Tidak berubah juga)
3 –> Tiga –> Tiga (Masih tetap sama)
4 –> Empat –> Empak/Empa’ (Berubah di ujun)
5 –> Lima –> Lima (stay the same)
6 –> Enam –> Anang/Enang (Berubah)
7 –> Tujuh –> Tujuh (Tetap sama)
8 –> Delapan –> Lapang (Pemenggalan suku kata depan)
9 –> Sembilan –> Sembilang (Penambahan “G”)
10 –> Sepuluh –> Sepuluh (tetap sama).
Tidak semua angka yang mengalami perubahan pelafalan. Yang berubah cuma 4, 6, 8, dan 9.
Beginilah dampaknya
KD Mata Keranjang
Seorang nenek sedang menonton infotainment ditemani cucu nya tersayang. Berita nya tentang album terbaru Krisdayanti (KD), kejadiannya sebelum KD bercerai. Si nenek nampak nya sangat kagum dengan Krisdayanti. Dia pun mencoba menggali informasi tentang KD dari cucu nya
Nenek : Wuihhhh cantit nya Krisdayanti…… Ckckckckck
Cucu : Iya Nek… dia dari dulu memang cantik
Nenek : Siapa suami nya Krisdayanti kah? (Dengan logat Makassar kental)
Cucu : ANANG
Si Nenek menganga…… Mukanya seolah-olah tidak percaya. “Dasar, cantik cantik ternyata suka KAWING, masak suaminya sampai ANANG, suami itu cukup satu saja…tidak perlu sampai ANANG…… Krisdayanti betul betul Mata KeranjaN“, si Nenek meradang.
Si Nenek yang geram langsung memindahkan channel. Si Cucu cuma melongo, tidak sadar dia salah apa sampe si Nenek geram begitu.
Gemes sih sebenarnya pengen bilang ke si Nenek…. suaminya KD tidak sampe ENAM nek, tapi namanya Anang. Eh sekarang si KD bukannya sedang tidak punya suami yah (Gosip mode: ON). Xixixixix.
Berenam
Percakapan antara seorang ibu dan anaknya. Si anak sedang bersiap siap keluar rumah.
Ibu : Mau kemana?
Anak: Mau BERENAM, Mak…….
Ibu : Mau BERENAM dimana??
Anak: Disitu, di KOLANG RENAM Bayangkara
Ibu : Oh berapa orang?
Anak: BERENANG Mak sama Dudik, Boni, Alam, Ahmad……. Andi. Maunya bertujuh, tapi Badu ndak ikuk….
Ibu : Oh kalo begitu hati hati nah…..
Anak : Iya Mak….. Berangkat dulu… Assalamu AlaikuN
Hehehehe, anak dan ibu yang sama sama okkots. Herannya, mereka saling mengerti. Guys, masih bisa ngikutin gak cerita ini….. Kalo masih kurang jelas tanya langsung ke saya yah.
Btw, sebelum menutup postingan ini. Saya ada pertanyaan. Rubahlah kalimat berikut ini menjadi sebuah kalimat okkots sempurna:
Kami berenam akan berenang di Kolam Renang Bhayangkara karena kolamnya besar dan pengunjungnya sedikit.
Bagi yang mau tahu jawabannya silahkan klik “read the rest of this entry” dibawah ini
Mbak Wati yang Bukan Hidangan
Di Sulawesi Selatan, angkutan antar kota yang paling umum digunakan adalah mobil-mobil sejenis Avanza, Panther, Innova atau Xenia. Jenis mobil inilah yang juga sering saya gunakan saat pulang kampung ke Sidrap sewaktu saya masih kuliah. Namun, bukan berarti bahwa bus tidak populer. Di daerah kami, bus antar kota juga ada, namun tidak sepopuler mobil mobil kecil seperti kijang dan sebangsanya. Dan berbeda dengan Jawa, di Sulawesi keberadaan bus AC tidak begitu banyak, bus AC hanya dijumpai untuk trayek-trayek tertentu seperti ke Makassar – Toraja, Makassar – Pare-pare, dan Makassar – Soroako. Bus bus trayek yang lain juga pake AC sih, tapi bukan Air Conditioner, melainkan Angin Cendela. Hehehehe. Yang habis facial disarankan jangan pulang kampung menggunakan bus jenis ini, ntar hasil facialnya gak keliatan.
Yang sering ke Pare-pare, mungkin sudah tidak asing dengan penggunaan Patas AC (Damri). Layanan bus ini segera menyedot peminat ketika pertama kali diluncurkan, maklumlah kami di Sulawesi jarang menikmati layanan bus AC. Jarak tempuh Makassar – Pare-pare selama kurang lebih 3 jam terasa lebih singkat karena teriknya matahari sudah tidak terasa lagi, bus nya pake AC gitu loh…
Adalah Icha, salah seorang teman baik saya yang sempat menggunakan layanan Patas AC jalur Pare-pare – Makassar. Icha dan kawan-kawannya waktu itu rencana bertolak dari Pare-pare menuju Makassar. Patas AC menjadi pilihan mereka. Untuk mengusir kebosanan, Icha dan teman-temannya membeli tabloid dan koran, lumayan lah buat bahan bacaan di bus.
Bus pun bertolak dari Pare-pare menuju Makassar, melewati Barru, Pangkep dan Maros. Saat meninggalkan Pare-pare, bus ini juga ternyata memiliki hiburan sendiri. Tersebutlah seorang wanita bernama Wati yang ditakdirkan menghibur Icha dan seisi Patas pada hari itu. Wati sehari-harinya mengamen di Patas AC. Saat bus mulai meninggalkan Pare-pare, Wati mulai menyanyikan sebuah lagu yang saya yakin teman- teman tahu. Sebuah lagu dangdut lawas dari Hetty Sunjaya berjudul Aku Bukan Hidangan (Ayooo, jangan pura-pura ga tau yah, pasti tau kan lagu ini?)
Sambil ber joget alakadarnya dan ditemani suara kecrekan, Wati mulai bernyanyi:
Jangam lah tenggelang kalau kau memandam tubuh ku
Jangam lah kau mabut kalau aku sedam tersenyum
Icha dan kawan-kawannya mulai menyadari ada ketidakberesan dalam lirik lagu yang baru saja mereka dengar. Mereka mulai mendengarkan secara seksama.
Memasuki reff, Wati mulai meningkatkan kualitas performance nya. Bak seorang professional yang sedang menghayati lagunya, Wati menutup mata dan menutup salah satu telinganya dengan tangan kiri nya saat memasuki Reffrain lagu:
Aku ini bukam lah makanam yam dihidamkam
Atau pula minumam yam selalu memabukkam ……
Kali ini Icha dan kawan-kawan sudah tak tahan lagi, untungnya mereka bawa tabloid. Sambil pura-pura membaca tabloid, Icha and the gank cekikikan dibalik rimbun tabloid. Untung pula Wati tidak menyadari aksi Icha and the Gank, bisa ngamuk Mbak Wati karena merasa dilecehkan. Upssss. Guys, kira-kira sadar gak sih kenapa Icha and the Gank sampe ngakak? Hehehehehe
Oh iya buat kalian yang (pura-pura) ga tau lagu ini, saya lampirkan video nya. Kan lumayan buat joget. Tarik Maaang……
Saat Kami Berlogat ala Jakarta
Tuntutan menjadi keren atau kedengeran gaul memang lumrah. Banyak diantara kita yang berusaha tampak keren melalui outfit, lifestyle atau mungkin lewat gaya bicara.Sejumlah orang memang senang menjadi pusat perhatian dan selalu ingin terlihat menonjol dibanding dengan yang lain. (Saya termasuk kali yah, hehehe)
Saya ingat sekali jaman-jaman kuliah dulu di Makassar, bahasa yang kami pergunakan sehari-hari di kampus adalah Bahasa Indonesia dengan aksen Makassar yang sangat kental manis (maksudnya terdengar sangat kental namun tetap manis, hehehe). Namun, selain itu, banyak juga rekan-rekan yang sangat konsisten berusaha menggunakan logat Jakarta dengan gaya “lo lo gua gua”. Bagi mereka yang memang gede di Jakarta, hal tersebut mungkin dengan mudah dilakukan mengingat pergaulan dan lingkungan memang sangat mempengaruhi cara berbicara seseorang. Tapi, bagi mereka yang berniat latah berlogat Jakarta dan dari kecil gedenya di pematang sawah dan kali, mungkin penggunaan logat jakarta dengan segala tetek bengek nya menjadi sedikit sulit. Analogi nya yah seperti memaksakan seseorang yang terbiasa makan ikan asin untuk mengkonsumsi roti plus keju.
Saat penggunaan logat Jakarta ini dipaksakan, kerap timbul kesalahan-kesalahan yang lucu, bikin tengsin dan bisa menimbulkan kesalahpahaman. Saya jadi teringat sebuah pengalaman unik tentang penggunaan logat Jakarta yang kurang tepat.
where is my sandal?
Waktu itu kami sedang berkumpul di kos-kosan salah seorang temen. Saya dan beberapa teman lagi ngumpul buat belajar bareng, siap siap UMPTN. Salah seorang rekan cewek sedang menunggu jemputan pacarnya. Tak berapa lama pacar si cewek datang, dan dia pun bergegas ke pintu depan menyongsong sang pacar. Tapi kemudian dia kembali masuk menemui kami, dia nampak mencari-cari sesuatu.
Dengan logat Jakarta yang merdu, dia bertanya: “Hei kalian….. SENDAL GUA MANA NGGAK?”
Kami sempat melongo…. Namun beberapa detik kemudian kami serempak menjawab: “NGGAK”.
Yah kami semua tahu, pertanyaan yang dimaksud adalah: “LIAT SENDAL GUA NGGAK”.
Ah ada ada saja.
HOWDY, Guys
Saat itu, ada pertemuan dengan beberapa rekan Makassar di sebuah cafe di Jakarta. Beberapa rekan telah datang di cafe, pertemuan sesama anak rantau memang selalu seru. Membahasa kisah konyol semasa kuliah dan membahas kerjaan masing masing di Jakarta. Tersisa seorang rekan yang belum datang, dia baru sekitar sebulan di Jakarta, jadi mungkin sedikit tersesat di jalan, maklumlah anak baru.
Tak berapa lama, dia pun tiba. Dan langsung menyapa kami semua. Sebuah sapaan dengan maksud untuk menunjukkan identitas barunya sebagai “The Jakarta People”. Sebuah sapaan yang singkat, ramah namun salah kaprah.
“Hai Semua, Apa Kabar Yuk”
Jyaaaaah, bro mending pake “Aga Kareba” kali. Daripada belepotan gitu.
Okkots dalam perkataang dimaafkang, Okkots dalam tulisang KETERLALUANG!!
Setelah membaca beberapa artikel tentang OKKOTS, mungkin banyak rekan-rekan yang sudah mulai mengerti tentang OKKOTS. OKKOTS umumnya memang terucap secara tak sengaja, tanpa maksud mengatakan sesuatu yang lucu atau dibuat-buat. Para pelaku OKKOTS kadang tidak sadar bahwa mereka melakukan OKKOTS jika tidak diberitahu.
Dalam praktek sehari-hari ternyata okkots tidak hanya terjadi dalam ucapan, namun juga dalam tulisan yang dapat dilihat melalui marak nya spanduk, pengumuman, pamflet yang bernuansa OKKOTS. Apalagi jika anda berkunjung ke Pusat Kota Okkots Dunia (Makassar, red), pasti anda akan menemukan sejumlah pengumuman okkots yang benar-benar menyalahi EYD (ya iyalah). Anda termasuk golongan orang-orang merugi jika berkunjung ke kota ini dan tidak menemukan tulisan Okkots.
Mereka yang Okkots dalam ucapan belum tentu okkots dalam tulisan. Namun, ada beberapa orang yang memang memiliki okkots perkataan dan tulisan sekaligus (Mereka yang patut dimasukkan dalam Museum Rekor Okkots). Yang mana yang lebih parah? Menurut hemat saya, tentunya mereka yang menulis dengan tulisan Okkots lebih parah dibanding mereka yang okkots nya hanya di perkataan saja. Kenapa? Karena okkots dalam tulisan berarti orang yang bersangkutan memang sudah mempresepsikan okkots dalam pikiran mereka. Sedangkan mereka yang hanya okkots dalam perkataan bisa jadi memiliki ejaan yang tepat di benak mereka namun mengalami kesulitan dalam melafalkan ejaan yang benar.
Hal ini sering saya alami dan saya dengar melalui cerita teman dan keluarga. Ada beberapa anggota keluarga saya yang memang mendapatkan anugerah berupa okkots perkataan sekaligus tulisan (padahal kakek dan nenek kami tidak okkots, lho). Saya benar-benar tidak habis pikir kok ada anggota keluarga yang terjangkit okkots tulisan yah. Herang Sayah Ckckckckck.
FACEBOOK STATUS
Saya jadi ingat ketika kami balas-balasan komen di FACEBOOK menjelang lebaran tahun lalu
STATUS SEPUPU 1: Ayooooo…. siapa siapa sepupu yang mau diisiin pulsa…
KOMEN:
Sepupu 2 : Sayaaaaahhhhh, bagi dong pulsanya….
Sepupu 3: Saya mau, ini nomer saya 081343******
Sepupu 4: Pulsa 50 ribu yah buat saya…..
Sepupu 2: Saya 100 ribu yah
Sepupu 5: Saya diuangkan saja yah…. Hehehehehe
Sepupu 6: Saya juga diuangkan saja. Asal jangan UAN ROBET (Maksudnya Uang Robek)
Dan komen pun tidak terhenti sampai disini, Si Sepupu 6 yang masih duduk di bangku SMP harus puas dengan celaan bernada OKKOTS dari kami, sepupu-sepupu nya yang tidak okkots ini.
WC AJAIB
Seorang sepupu saya juga pernah melintas di sebuah jalan Veteran di Makassar, di samping sebuah WC Umum ada tulisan:
“dilaran kencin dan berat disini , yang kencin disini = anjin..!!”
Anybody wants to help me translating this sentence?
Belajar okkots Bagian 3
Setelah mengetahui tentang okkots N dan NG serta okkots K dan T, saya ingin mengajak teman-teman semua untuk menambah pengetahuan grammar okkots. Untuk postingan kali ini, kita akan mencoba melihat bentuk okkots level menengah. Menurut hemat saya, OKKOTS N dan NG masih merupakan bentuk okkots ringan dan mudah ditemui dalam percakapan sehari-hari di daerah Bugis Makassar. Namun, OKKOTS K dan T saya kategorikan sebagai OKKOTS menengah karena pengidap OKKOTS ini tidak sebanyak pengidap OKKOTS N dan NG.
Selanjutnya, yang ingin saya perkenalkan adalah keluarga baru OKKOTS, yang saya sebut sebagai okkots N-M-NG. Kenapa disebut demikian? Karena ternyata dalam OKKOTS menengah jenis ini, bukan hanya posisi N dan NG yang sering tertukar-tukar namun ada juga huruf M yang sering tertukar dengan N dan NG begitupun sebaliknya. Okkots M-N dan NG ini tidak terlalu banyak terdengar, maklum yang mendominasi di Makassar dan sekitarnya dalah OKKOTS N dan NG.
Agar lebih mudah dimengerti, saya akan berikan sedikit contoh.
Kata Celana Dalam, bisa bermetamorfosis sempurna menjadi Celana Dalan atau Celana Dalang.
Kata “bukan”, berubah menjadi “bukam” atau “bukang”
Kata “Serang”, bisa menjadi “seran” atau “seram“.
Kira-kira bisa dimengerti kan?
Well, let’s move on to the stories.
Story 1.
Cerita ini adalah cerita di kelas pelajaran olahraga ketika saya SMA. Kelas sedang senyap karena sang guru memberikan teori tentang cara berenang. Jangan harap anda akan menemukan gaya teri kelelep atau gaya paus mabok, seperti yang diceritakan Mila dalam blognya. Tapi, si guru memberikan langkah langkah berenang gaya bebas. Kami serius memperhatikan karena rata-rata teman di kelas bisa berenang tapi pake gaya banjir. Yang membuat saya tak bisa benar-benar konsen adalah kalimat si Guru Olahraga yang bertabur OKKOTS.
“Jadi, nanti sebelum berenam, harus pemanasang dulu yah!”
Saya tertegun sejenak, “Bukannya sebelum berenam harusnya berlima dulu,” jyaaah si Guru yang mau bilang berenang malah jadi berenam, kenapa nggak bertujuh berdelapan dan bersembilan aja sekalian.
Nah, yang paling parah adalah ketika si Guru Olahraga akan mengakhiri jam pelajaran olahraga hari itu:
“Nah sekian dulu hari ini, minggu depan kita ke kolaNG renaM“.
Nah loh….. Saya no comment, bener bener speechless.
Story 2
Kali ini cerita tentang tiga orang ibu yang sama-sama membanggakan anak masing masing.
Ibu 1 : anak saya hebat loh, kerjanya di indovisiong.
Ibu 2 : Indovisiong itu tidak seberapa, anak saya lebih hebat lagi, kerjanya di Be-U-eM-eNG
Ibu 3: Anaknya kerja di Be-U-eM-eNG mana bu?
Ibu 2: di Telkong…….. (tersenyum jumawa)
Ibu 3 : Ah kalo cuman kerja di telkong, anak ibu masih kalah sama anak saya.
Ibu 1 : Memangnya anak ibu kerja dimana?
Ibu 3 : di eL-eS-eNG don…..! (dengan gaya pede abis)
Ibu 2: di eL-eS-eNG itu kerjanya apa bu?
Ibu 3 : Anak saya berjuang membela HANG………
Ibu 1 dan ibu 2 : ?!?!??!?!?!??!?!?!
Nah bagi yang bingung dengan cerita 2 di atas, saya bantu yang dengan contoh perubahan kata karena glossary berikut menjadi sumber kelucuan di story 2 ini
Indovisiong, maksudnya indovision, layanan tivi kabel terkemuka di Indonesia
BUMN –> Be-U-eM-eNG = Badan Usaha Milik Neng Geulis
Telkong, sebenarnya merujuk pada Telkom
LSM –> eL-eS-eNG = Lembaga Swadaya NGasyarakat
HAM –> HANG = Hak Asasi NGanusia.
Semoga bermanfaat teman. S E K I A N G





